Saatnya tiba..

Waktu yang terus mengikis kehidupan kita, dan kita belajar mempertahankan kehidupan dalam genggaman, waktu yang telah memisahan kita, waktu yang mendewasakan kita, waktu pula yang akhirnya mempertemukan kita kembali,,,

Terkadang kesibukan mendewakan kita, tak jarang jarak menjadi halang rintang kita, sulit memang untuk bertemu sapa, ..

Ketika pertemuan itu tiba, waktu seakan berhenti memberikan ruang dan jeda untuk bercengkram, meluapkan kerinduan,  dan membuka memory demi memory yang tersimpan lama. Seakan kembali memutar hari-hari itu, dan kita menjadi aktor-aktor yang hebat,  tersenyum karenanya, walau kadang kepedihan bahkan kekonyolan mehinggapi dalam setiap jengkal skenario cerita kita.

Aku tersenyum bahagia melihat kalian saat ini, sahabat-sahabat surgaku, in sya Allah… masih ingat nasihat gurukita kemarin?? Jangan lupa shalat nya, shalat wajib sudah jelas  harus di kerjakan, tapi dhuha dan tahajud nya jangan sampai tertinggal,,,, datang pada guru minta doa kepadanya, karena hubungan sang guru dan seorang murid tidak akan pernah terputus sampai hari akhir dan tibanya masa perhitungan…. wejangan yang selalu di berikannya yang akan selalu merefresh kita setelah kembali fitri….

Aku bahagia, mendapatkan pelajaran hidup baru,  walau itu datang dari celotehan canda kalian, aku masih harus belajar memahami kalian, memahami setiap kekuatan dahsyat yang kalian sembunyikan,  kemurahan hati kalian, dan aku tak pernah salah,  bahwa kalian adalah sahabat, guru, keluarga yang luar biasa..

Paris Van Java

PART 1

Liburan kali ini alhamdulillah ada kesempatan untuk mengeksplore kota Bandung, dari mulai bukber, meet up, seminar, sampe ada hari dimana bener2 mager. Pagi itu aku bersiap bwt ikut seminar di TSM yg diisi oleh Kak Gitasav… Dianter saudara sampe depan TSM,, dan mulai jalan menelusuri setiap jejak dan inci di TSM,, aku melihat wanita2 berhijab sepertiku mulai memadati TSM, walau sebenarnya itu masih terbilang pagi,, para petugas yang disana saja masih sibuk memebereskan tempat. Kuputuskan untuk  menunggu temen di depan mesjid.. dan di mesjid pun sepertinya mau ada pengajian, karena banyak ibu2 berseragam yang sama memadati mesjid. Sekitar setengah jam aku menuggu teman dan akhirnya dia pun datang,, ohh bahagianya, setelah sekian lama tak berjumpa,,, cerita kesana-sini tak ada habisnya,,, dan ternyata dia mau ikut study exchange ke Jepang,,, waah.. semangat kawan!!!

Menjelang shalat ashar, kita langsung bergegas dari TSM, masih bingung bwt nentuin tempat bukber, coz agenda awalnya agak kegeser,,, karena diantara temen aku ada yg gak jadi dateng… dan kita putuskan untuk mencari tempat di sekitar Cibiru, dan yaa,,, tahu Bandung di sore hari seperti apa… MACET apalagi di daerah Cibiru.. dan kita pun sempet berhenti di tengah jalan, karena udah mumet jalanan, dan kita putusin bwt nyari tempat makan di sekitar situ, terserah tempat apa aja kaki lima pun gak masalah… dan alhamdulillah kita menemukan tempat makan yang hanya berjarak 5 menit dari tempat dengan bantuin mbah google…

Sampai ditempat kita bergegegas shalat Ashar, dan setelah kafe sudah mulai ramai di mulailah kekesalan pada hari itu, semua tempat ternyata sudah di booking… dan tidak ada konfirmasi dari pihak kafe dari awal, sedang sangat tidak memungkinkan jika kita mencari tempat baru, karena hari menjelang maghrib dan jalanan semakin bertambah macet, akhirnya kita meminta pertanggung jawaban ke pihak kafe untuk menyediakan tempat, dan alhamdulillah ternyata tidak semua tempat sudah di booking, tapi masih ada beberapa tempat di balkon yang masih kosong, kitapun putuskan untuk pergi ke balkon, menunggu pesanan, sambil melihat antrian kendaraan yang enggan bergerak,,,,

Dan kita sangat menikmati quality time ini,, cerita pengalaman masing2, curhat dari mulai kehidupan, perkuliahan sampai percintaan ,,haha,, dan lebih seru lagi karen kita bernostalgia ke zaman hitam-putih, menertawakan kekonyololan2 yg pernh terjadi… saking asyiknya ngobrol sampai kita gak hirauin makanan yang belum kunjung di antar padahal waktu sudah hampir memasuki isya,,, ketika kita tersadar kita langsung memenggil waiters dan mengkonfirmasi apa yang telah kita pesan .. kita melihat samping kanan dan kiri, merekapun sama memasang muka kesal dengan pelayanan yang ada, dua, tiga kali sampai akhirnya untuk ke empat kalinya kita memenggil waiter dan dia memberikan sesuatu yang cukup untuk menyulutkan emosi malam itu, dari semua makan yang kita pesan hanya ada dua gelas minuman, 1 piring nasi dan 1 porsi steak… jadi,,, kita saling menatap, selama itu apa yang mereka lakukan?? Dan kenapa tidak mengkonfirmasi sejak tadi?? Dan akhirnya kita memutuskan untuk memesan lauk seadanya, dan kita mencari nasi ke pedagang kaki lima, karena persediaan nasi di kafe tersebut habis. Dan aku melihat dua, tiga meja disampingku tak seberuntung aku, mereka hanya mendapatkan minuman ta’jil selama mereka menununggu yaa kurang lebih sama seperti aku.. dan yang terjadi mereka pergi ke kasir dan aku lihat mereka meluapkan ketidakpuasan terhadap pelayanan di cafe ini…  ya, di luar kekesalan kita tentang masalah pelayanan,,, tapi kita tetep happy, ketawa, menghilangkan kekesalan yang ada yang hanya akan berujung penyesalan…

Dan kita akhiri pertemuan yang sangat indah ini dengan sebuah pelukan dan saling mendoakan…..

…. congratulation bwt occy yg udah di khitbah, dan bwt sikhot yg mau berjuang di negeri sakura…..

PART 2

Beda usia yang hanya terpaut satu tahun, menjadikan kita terbuka dan enjoy bwt saling curhat satu sama lain. Ya sepupu yang satu ini, udah lama banget gak ketemu, hampir sekitar 4 tahun gak pernah ketemu… Jadi saat ada kesempatan libur aku putusin bwt meluapkan kerinduan yang memuncak, hehe. Gak ada yang berbeda, dia tetaplah seorang adik yang membutuhkan saran dan motivasi dari seorang kakak. Haha.

Siang itu kita putuskan untuk pergi jalan, ngabuburit sambil cari bukaan.. Dia mengunjungi   temannya yang sedang magang di salah satu mall di Bandung, yang berujung dengan cuci mata dan menguras dompet. Setelah itu kita putuskan untuk mencari tempat untuk berbuka, dan kita lagi pengen banget makan mie ramen yang terkenal good taste di sana… Dengan penuh antusias kita menelusuri jalan menuju tempat ramen dan yaa, sudah sangat ramai dengan para pengunjung dan tidak ada kursi kosong lagi, dan akhirnya kita putuskan untuk mencari tempat makan yang lain, dua, tiga, empat, lima tempat makan kita datangi dan semuanya full, adzan maghrib pun berkumandang dan kita masih mondar-mandir cari tempat yang kosong, dan akhirnya kita memutuskan untuk memilih salah satu tempat makan di penghujung jalan yang sudah mulai ditinggalkan pengunjung karena waktu hampir mendekati shalat isya, setelah selesai makan dan shalat kita putuskan untuk berkeliling lagi, dan ke tempat mie ramen ketika tempatnya sudah mulai sepi.

Jam menunjukan pukul 8 malam, dan kita putuskan untuk melihat lagi ke tempat mie ramen apakah ada kursi kosong atau tidak, dan ya alhamdulillah tempatnya sudah lumayan sepi sesuai dengan perkiraan awal, setelah memesan, kita memilih salah satu tempat duduk yang lumayan nyaman bwt kita duduk dan bercerita. Dan mulailah aku dan dia mengeluarkan cerita masing-masing yang telah kita simpan selama 4 tahun ini.. tak jarang kita saling tertawa satu sama lain, dan terkadang pembicaraan sangat serius sampai kita saling mengerutkan kening, dan juga ada cerita penyesalan dan kekesalan, dan pastinya ada rencana-rencana ke depan kita masing-masing yang membutuhkan saran untuk merealisasikannya.

Dan kita terus saling bercerita sambil menikmati mie ramen di malam itu, tidak sedkit dari para waiters dan para pengujung lainnya mengedarkan pandangannya dan melihat kearah kami, mungkin karena kita yang saling bercerita sambil menggebu-gebu. Dan aku melihatnya, tidak bukan hanya melihat bahkan aku bisa merasakan jika dia seperti telah mengeluarkan beban-beban yang dia pikul selama ini, walaupun ke depananya kita akan berjalan dan menyelami dunia masing-masing. Aku tidak tahu rasanya dunia dia seperti apa dan dia pun tidak akan pernah merasakan duniaku seperti apa, kita hanya bisa menyelaminya lewat bayangan masing2.

PART 3

            Enatahlah, aku sedikit ragu untuk menceritakannya, siang itu aku bergegas untuk pergi ke makam pahlawan bwt kita technikal meeting dulu, lumayan perjalanan yang seikit melelahkan dari riung bandung ke makam pahlawan, untungnya gak kejebak sama macet. Ragu, nervous, entahlah apa namanya, namun detak jantung ini sedikit rancu tatkala aku sampai di makam pahlawan dan menuju ke masjid tempat yang lainnya menunggu, dan aku sedikit bingung untuk mencari mesjidnya, dan aku berdiri di depan alfamart sambil menelfon salah satu temenku, dan dia mengatakan akan ada yang jemput ke tempat aku, ya dan aku melihatnya seseorang yang aku kenal di dunia maya berjalan ke arah ku, segera aku menghampirinya dan kita menuju tempat perkumpulan, dan aku melihat sudah banyak teman-teman yang lainnya yang sedang menunggu, bersantai, sambil bercerita di teras mesjid.

Hampir delapan puluh persen dari mereka aku tak mengenalinya, itu yang sedikit menciutkan hati, tetapi semuaya ramah, baik, and friendly, hanya saja aku yang masih belum bisa berbaur dengan suasana baru. Setelah shalat ashar, dan memastikan semua anggota sudah ada, kita bersiap untuk menuju lokasi, ke Garden Clove and Hotel tepatnya, dan mulailah satu persatu kendaraan bergerak, dan tenang saja walaupun kendaraan kita banyak tapi kita sangat tertib ketika di jalan, setelah itu kita mulai berbelok dan ternyata jalannya menanjak sampai ke tempat lokasi, tapi kelelahan terbayar sudah tatkala aku bisa melihat keindahan Bandung dari hotel ini, dan aku berguamam dalam hati “aku sadar, aku jatuh cinta padamu, Bandung”.

Agenda pertama kita adalah santunan anak yatim, kita langsung bergegas mempersiapkan semuanya, yaa walaupun ada sedikit kesalahan teknis, but acaranya lancar, dan para adik-adik senang dengan ini, apalagi ada atraksi sulap dari salah satu teman aku. Dilanjut ke buka puasa bersama, di temani alunan musik yang merdu dan dihiasi lampu-lampu taman yang indah dan tak lupa pemandangan Bandung di malam hari yang tak luput dari pandangan, kita menikmati malam itu sambil saling bercengkram satu sama lain, yang jarang sekali dipertemukan seperti ini, satu kata untuk menggambarkannya, “aku bahagia”. Terimakasih untuk temen-temen Espada atas keseruannya di malam itu… Semoga ada waktu lagi bwt aku tepatnya bwt lkut lagi agenda2 kita…

PART 4

            Siang itu aku duduk santai di depan ITC menunggu adikku yang lagi magang disana, tak mau menyia-nyiakan waktu aku bergegas pergi menelusuri setiap sudut kota Bandung, entahlah aku terus berjalan tanpa tujuan, aku sangat menikmati setiap sapaan dari abang2 penjual, pak satpam, orang-orang yang berlalu lalang, sampai pak supir yang terus melambaikan tangan, dan aku melihat segerombolan orang dan rombongan mobil sedang meramaikan jalan, entahlah apa namnaya semacam pawai gitu di bulan Ramadhan, karena waktu sudah memasuki ashar akhirnya aku putusan untuk pergi menuju mesjid, dan waw! Bukan hanya kendraan yang macet, memadati jalanan, namun juga di penuhi oleh para pejalan kaki yang berlalu-lalang, dan aku tersenyum karenanya, aku sangat menikmati kepadatan jalan sore ini, di sepanjang jalan menuju mesjid berjejer pedagang, mulai dari yang berjualan kaos kaki, aksesories hp, tas, goreng2an, bolen, pedagang asongan kartu ucapan, pakaian, dan tak luput dari jejeran mall2 yang sangat dipadati oleh para pegunjung.

Setelah berjalan cukup lama akhirnya aku sampai di mesjid, dan tak kalah ramainya di mesjid pun oleh para penikmat kota Paris Van Java ini entah para pribumi, atau turis lokal bahkan asing. Segera aku menuju ke tempat wudlu dan langsung memasuki masjid untuk melaksanakan shalat, banyak dari mereka yang sengaja berdiam di luar bahkan dalam mesjid untuk beristirahat, ada yang mencharger hp, ada yang hanya berduduk santai dan mengobrol, membenarkan tatanan kerudung bahkan ada yang mengganikan popok anaknya, ada yang menyendiri, berdua, sekeluarga, bahkan rombongan. Selesai shalat aku beristirahat sejenak sambil membaca pesan-pesan yang masuk, dan aku putuskan untuk menghabiskan sore itu di halaman mesjid, dan benar saja sudah banyak orang-orang yang ngabuburit disana terdengar suara riang, teriakan, canda, tawa dari setiap orang yang aku temui. Aku sangat menikmati sore itu ditemani oleh rumput2 indah dan senyum kebahagiaan yang terpancar dari orang sekitarku, dan lagi aku mengatakanya, “aku bahagia”.

Memang benar, jika Allah saja telah mengingatkan kita dalam firman-Nya, ” Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan??”.  Karena dalam setiap hirupan udara yang kita hirup harus diiringi dengan kesyukuran pada-Nya, Dalam semua metamorfosis kehidupan ini, bahagia-sedih, tertawa-menangis, susah-sedih, bahagia-menyedihkan, di atas-dibawah, disayang –dibenci, dipercaya-dikhianati, pasti ada hikmah dalam setiap proses itu, kita hanya perlu bersabar dan bersyukur.

Satu pelajaran yang aku dapat dari perjalan ini, persaudaraan itu mahal harganya, mudah didapatkan, namun sulit untuk menjaga bahkan sangat sulit untuk mempertahankannya. Namun tidak semua orang mengerti dan memahami arti dari persaudaraan ini, yang tak bisa menjaga persaudaraan yang ada, bahkan cenderung menghancurkan sebuah persaudaraan dengan setiap gerakan dan ucapan yang terlontar dari bibirny. Cukuplah kita membicarakannya, jika dia saja tidak memilki i’tikad baik untuk membangun sebuah keluarga. Seperti dalam sebuah mahfudzat “Saudara itu kebanyakan tidak lahir dari satu ibu”. Mungkin engkau belum memahami arti dari pepatah ini saudariku.

Semoga kita selalu dalam lindungannya. Amien…..

 

 

Tak ada satupun cerita yang ingin aku lupakan

Tak ada satupun cerita yang ingin aku lupakan,

Adalah kalimat pertama yang terbesit dalam benakku sejak ku jejakkan kembali kakiku di bumi kampung halaman ini, terlalu lama mungkin aku meninggalkannya, dan belum sempat kujelajahi kembali setiap sudut kota ku ini. Dan ketika waktunya tiba, wow! aku baru menyadari begitu banyak perubahan yang terjadi, walau masih tersisa jejak masa lalu yang kini semakin maju mengikuti zaman.

Rasanya aku begitu bahagia, setiap langkah kaki yang ku ayunkan selalu mengukir sebuah senyum   dari bibirku, semakin aku melangkah, semakin aku menjelajahinya, semakin aku merasakan kerinduan yang mendalam padanya, betapa bahagianya ketika aku kembali bisa menyapa mereka yang tersenyum indah disetiap sudut  jalan yang kulalui, menyapa tukang makaroni yang masih setia dengan dagangannya, menyapa bang ojek yang begitu cerewet, menyapa pengayuh becak tua yang tak kalah bersemangat, dan menyapa pelayan mayasi, yang setia menungguku sendirian dipojok ruangan, bahkan aku bisa menyapa teman masa kecilku yang sudi menemuiku, kusempatkan melihat pusat belanja yang dulu tempat bermain aku, walau yaa hanya ingin shalat disana hhe  dan tak kalah berartinya, tatkala aku bisa duduk tenang didepan masjid yang sejuk dan jemariku tak henti bergerak untuk terus bercerita.

Kusapa anak-anak yang berada di teras masjid, rasanya melihat mereka berpakaian seperti itu, kembali membuka memori lamaku, dan aku masih ingat ketika salah satu dari kakak senior paskibra, yang yaa,,,,, sedikit mencibir seragam kami ketika sedang latihan bersama, sudahlah itu sudah tidak penting dan kami juga hanya menganggap itu sebagai candaaan, bukan begitu kakak senior? Hehe..

Yaaa, dan aku tertawa lagi ketika melihat tiga perempan berseragam smp yang saling berbisik ditempat, tersenyum, dan saling dorong-mendorong, dalam hati bertanya ‘kenapa mereka?’ .oh dan aku tak perlu befikir lama untuk bisa mengartikannya, benar saja dua orang leleki berseragam yang sama sedang menunggu mereka di depan masjid,, ahh lucunya mereka ini. Dan memang benar aku merindukkannya.

            Karena sampai kapanpun mereka akan selalu bersama di masa lalu dan masa depanku, bukan sesuatu yang buruk, sekalipun ada yang menyisakan pilu, bukannkah itu pelajaran yang berharga?? kenapa akau harus melupakannya? Semua kamuflase masa lalu memiliki cerita yang berbeda, yang akan menjadi bumbu dalam kehidupanku sekarang dan nanti, so “tak ada satupun cerita yang ingin aku lupakan”.

Sebuah Harapan

Kututup lembaran itu, dan ku simpan rapat dalam ruang yang gelap

Kujaga kegelapannya, tanpa seberkas cahaya menembusnya

Kukunci rapat-rapat,

Berharap  tak pernah kuingat lagi lembaran itu, berharap tak ada goresan tinta hitam yang terukir lagi, berharap tak ada lagi ‘kesalahan’ yang harus aku goreskan, berharap tak pernah kembali pada ruangan itu, berharap tak pernah ku sentuh kembali kunci itu, berharap tak akan pernah kubuka lagi ruangan itu, berharap tak pernah aku melihat lagi kegelapan itu,,,

Namun lagi itu hanyalah harapan, harapan yang membawaku pada kenyataan, kenyataan aku telah kalah, terkalahkan seberkas cahaya, yang mampu menembus ruang gelapku, terkalahkan oleh cahaya yang mampu mencuri celah ruanganku, seberkas cahaya yang memperlihatkan kembali lembaran itu, seberkas cahaya yang memanggilku kembali pada ruangan itu, kembali pada kegelapan itu, seberkas cahaya yang tak ayal khanyalah kesemuan, sungguh tak nyata.

Rasa takut akan kegelapan, terkalahkan dengan cahaya-semu itu, sebias cahaya yang mampu menyinari bagian  gelap itu, cahaya yang menyadarkan kelemahan pertahananku, dan aku melakukannya, membuka kembali ruangan gelap itu, seberkas harapan bersemayam di hatiku,  berharap gelap kan berganti terang, berharap aku mampu menyingkirkan tebalnya debu yang ada, berharap aku kembali membuka rungan lama, lama terkunci, dan melihat kembali lembaran itu, yang telah lapuk tak beraturan, berharap mampu menyusun kembali setiap kata yang telah hilang, berharap menjadikan kembali sebuah kalimat yang indah, sehinnga mampu kurangkai kembali cerita yang sempurna.

Dan aku kembali dibutakan oleh cahaya itu, cahaya yang tak kunjung bersinar dan tak kunjung meredup, cahaya menyilaukan dan menyakitkan mata, cahaya yang mematikan fungsi otakku. Dan aku terenyah pada kenyataan. Aku takkan mampu merangkai harapanku.

 

Kehadiranmu

Dan aku masih bisa mendengar, kicauan katak yang saling berirama

Akupun masih bisa mendengar, sisa-sisa gemercik hujan yang saling bersahutan

Bahkan aku bisa merasakan, kesegaran udara yang tumbuhan berikan

Kuhirup dalam diam dan merasakan kesejukan

Dan terus kugerakkan tubuh ini, tuk kembali sujud dihadapanmu

Begitu banyak harapan yang ku bawa, begitu berat ku memikul beban rasa

Dan kuletakkan beban ini disisimu – dalam sujudku

Kesunyian malam menyelimuti kegelisahan hati, kegundahan yang berkecamuk dalam jiwa

Dan kembali aku bersujud dihadapanmu, kucurahkan isi hati ini padamu

Aku begitu lemah, .. Dan aku membutuhkan perlindunganmu

Aku begitu lemah, …Dan aku membutuhkan ulur tanganmu

Aku merasa sepi dan sendiri, … Dan aku butuh akan hadirmu

 

Rindu

Dahaga merasuk dada, rasa ngantuk menyerang mata, layaknya daun di musim semi, badankupun layu berguguran di tengah rasa lapar dan perut keroncongan, dan aku harus menguasai angin tuk menahan nafsu dan amarahku – Ramadhan..

Masih teringat dalam benakku, melewati Ramadhan bersama adikku tercinta, aku tinggal di luar kota untuk mengejar cita-citaku. Dan liburan semester kali ini, begitu spesial, karena aku bisa melewati Ramadhan penuh di rumah, tanpa harus takut memikirkan menu buka dan sahur yang harus berkelana terlebih dahulu, terkadang jika aku sedang malas cukup dengan minuman saja, ya itulah nasib anak rantauan.

Menurutku dia termasuk seseorang yang pendiam jika dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Wajahnya ya kuakui bisa dibilang tampan maka tidak salah jika banyak teman bahkan tidak jarang kakak kelas yang menyukainya.

Dia baru duduk di kelas VII SMP, adikku sudah mulai besar gumamku tatkala melihatnya berpakaian putih-biru. Masih kuingat, dia yang selalu membuntutiku kemanapun aku pergi, dia yang selalu meminta pembelaan dariku saat dimarahi mamah, dia yang menangis dipangkuanku saat dia rindu ayah, dia yang malu-malu cerita padaku saat mulai naksir teman sekelasnya, dan dia yang sudah berani tampil di depan untuk melindungiku.

Aku merasa dengan jarak yang ada dan susahnya temu sapa, menjadikan dia sangat manja diliburanku kali ini. Setiap saat dia menghabiskan waktunya denganku, mulai dari berbagi cerita sampai akhirnya bertengkar. Ah, aku merindukannya!

Mendekati hari raya Iedul Fitri sudah banyak sanak-saudara yang mulai mudik, rumahpun semakin ramai dengan kenakalan sepupu-sepupu kecilku. Dan hari yang dinantipun tiba, hari kemenangan untuk umat Islam, namun pagi itu aku dibuat kesal oleh adikku, ketika semua orang sudah siap untuk pergi, dia masih betah dengan bantal kesayangannya dan membuat mamah naik pitam, tidak ingin merusak suasana yang fitri, akupun meminta ayah dan mamah untuk pergi terlebih dahulu dan aku akan mengurusi adikku yang manja dahulu.

Rasanya begitu menyenangkan lebaran kali ini, benar-benar bisa berkumpul dengan keluarga besar, dan yang terpenting adalah kehadiran ayah di tengah-tengah kami. Karena terkadang ayah harus berbagi waktunya dengan ibu dan kakak tiriku.

Pagi itu kami sedang berkumpul di pekarangan rumah, dan adikku izin pergi keluar untuk membeli sesuatu, tak ada firasat apapun saat dia berpamitan, tak ada prasangka buruk saat dia mulai pergi dengan ninja kesayangannya.

Tak lama setelah kepergiannya, seorang lelaki datang dengan tergesa-gesa, dan mengatakan sesuatu secara terbata-bata, namun mampu melumpuhkan saraf dan mengacaukan fikiranku. Lelaki itu mengatakan kalau adikku mengalami kecelakaan. Adikku kecelakaan? Terluka? Di hari yang bahagia? Pertanyaan satu demi satu berkacamuk dalam fikiranku dan aku hanya bisa tertunduk lemas, menangis dan menjerit semampuku, dalam hati aku berkata “ini hanyalah mimpi”.

Sekilas aku melihat ayah dan beberapa oang masuk ke dalam mobil dan langsung menuju tempat kejadian, sungguh hati ini seperti teriris pisau saat orang-orang disekitarku menceritakan keadaan adikku saat itu.

Jalanan hari itu sepi, mungkin setiap orang sedang melampiaskan kerinduan mereka di hari mudik ini. Hanya ada dua sepeda motor yang melintasi jalan itu, dan melaju dengan kecepatan tinggi dari arah yang berbeda. Merekapun dipertemukan di sebuah tikungan tanpa ada yang mampu menghentikan laju kendaraan  masing-masing sehingga kehilangan keseimbangan dan pada akhirnya adikku memutuskan untuk membelokan sepeda motornya dan dia terlempar jauh dengan kondisi motor yang tak berwujud dan adikku yang jauh lebih mengenaskan dari keadaan sepeda kesayangannya, dan ayah dengan segala usahnya membawa nya ke rumah sakit.

Rumah sakit yang dimaksudkan merupakan daerah wisata, sehingga membuat jalanan macet, dan menghambat laju mobil yang ditumpangi ayah dan adik. Dan atas kehendak Allah, adikku menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan menuju rumah sakit di dampingi oleh ayah yang tak mampu menyembunyikan ketegarannya karena cairan bening itu mengalir dari manik hitamnya.

Setelah kembali tersadar kubuka mataku dan mengedarkannya pada sekelilingku, dan aku melihat rumah itu menjadi semakin ramai. Kubertanya dalam hati “Apa yang terjadi?”. Akupun dituntun untuk mendekati seseorang yang sangat aku sayang, seseorang yang selalu aku rindukkan, aku melihat ketenangan di wajahnya, dia terlelap dalam tidurnya. Aku tersadar dan kudekati wajah tenang itu, ku kecup manis keningnya “Ini seperti mimpi” dan butiran bening itu kembali jatuh.

Aku tahu tak seharusnya aku menangis seperti ini, karena aku tahu ini adalah kehendak Allah. Aku tahu tak seharusnya aku menangis, karena kematian adalah janji yang benar. Aku tahu tak seharuanya aku menangis, karena seharuanya aku ada di samping mamah dan menguatkannya. Aku tahu tak seharusnya aku menangis, karena aku melihat kesedihan yang mendalam pada sorot mata ayah, dan kulihat ayah menyeka butiran bening itu yang terus memenuhi ujung matanya. Aku tak seharusnya menangis, karena bukan hanya aku yang kehilangaanya, tapi semua yang ada disini pasti merasakannya.

Aku menyayangimu, adikku.

Selamat jalan, kami pasti akan sangat merindukanmu. Tak ada satupun yang bisa menggantikanmu dalam hatiku. Aku bersyukur karena kita dipertemukan di dunia ini dengan ikatan tali persaudaraan di antara kita, semoga kita dipertemukan kembali di syurgaNya.

Aku merindukanmu, adikku

Rindu akan tangismu, rindu akan kemarahanmu, rindu akan candamu, rindu rengekanmu, rindu suara emasmu, aku rindu mendengar ceritamu, dan aku rindu akan hadirmu. Dan karena kerinduanku yang sangat mendalam ini, akan selalu ku hadirkan namamu dalam setiap sujud dan do’aku……..

 

 

Tentang Kita

Ini bukan tentang aku dan senyumannu,

Ini bukan tentang aku dan harga diriku

Bukan pula tentang aku dan perjuanganku

Bahkan bukan tentang aku dan rasa piluku,

Atau bukan tentang kekalahan dan kemenangan

Ini adalah tentang kamu, yang selalu buatku rindu

Ini adalah tentang kamu, yang buatku pilu

Tentang kamu, yang buatku sendu

Tentang kamu, manusia masa lalu

Tentang kamu, yang tak pernah ingin lagi aku tahu

Dan tentang kamu yang selalu menghantuiku

Bukan aku dan bukan kamu, tapi inilah kita

Yang saling menutup diri

Tentang kita yang selalu membentengi diri

Tentang kita yang terkalahkan keadaan

Tentang kita, yang ditertawai oleh putaran waktu,

Tentang kita, masa lalu-hidupku-dan hidupmu…..